Belakangan rasanya
mudah ekali menyalahkan tangan semesta atas semua yang terjadi. Pekerjaan yang
makin jahanam dari hari ke hari, urusan hati yang belum juga selesai sampai
hari ini, juga soal impian membahagiakan orangtua yang ternyata membutuhkan
peluh dan presisi tingkat tinggi.
Saat otak sedang
penuh-penuhnya, mudah saja untuk bertanya:
Tuhan di mana?
Apakah Dia tidak tahu kita kalang kabut di sini dan memilih menutup mata?
Premis sederhana ini
memang terdengar klasik sekali. Tapi jika mau percaya dan mengamini, hidup akan
jauh lebih ringan dijalani.
Tuhan selalu ada.
Dia bersama kita. Kadang Dia cuma mau kita bersabar saja.
Tidak langsung
diberi saja kita masih malas-malasan mengabdi. Sebenarnya Tuhan memberi waktu
tunggu agar kita meresapi
Sebenarnya Tuhan
memberi waktu agar meresapi
Sebenarnya Tuhan
memberi waktu agar meresapi via katmervynphotography.com
Kalau mau, bisa saja
Ia langsung mewujudkan semua yang kita minta. Toh tidak ada yang sulit bagiNya.
Proses skripsi yang panjang dan berliku bisa di skip dan dimudahkan saat itu.
Perjalanan mencari jodoh yang membuat kita lelah dan tergopoh bisa ia jadikan
manis seperti saat kita menjajal renyahnya salak pondoh.
Tapi mari kita
berkaca saja. Sebagai Hamba, bukankah ada sifat brengsek yang kita punya? Tidak
langsung dikabulkan permohonannya saja kadang kita malas mendatangiNya saban
hari. Menjumpainya 5 kali dalam sehari, bahkan memujanya di akhir minggu kadang
berat dijalani. Yeah, manusia memang dibekali dengan rasa mampu dan kurang tahu
diri.
Jika mau melongok
sedikit dalam lagi, waktu tunggu antara doa dan pengabulan sebenarnya jadi
momen terbaik untuk meresapi. Di masa kita khusyuk tunduk, kita mengerti bahwa
Ia selalu balas memeluk. Saat malam dihabiskan dengan doa-doa panjang, kita
sadar bahwa ke manapun pergi; senakal apapun kita Dia hanya mau kita pulang.
Saat kita datang
melangkah, Ia selalu menghampiri dengan berlari. Tak sedetik pun Ia biarkan
kita seperti anak ayam yang kehilangan navigasi
Ia tak akan
membiarkan kita seperti anak ayam kehilangan navigasi
Ia tak akan
membiarkan kita seperti anak ayam kehilangan navigasi via
katmervynphotography.com
Jika Ibu saja selalu
punya naluri, bukankah tak mungkin Ibu dari semesta memandang kita yang
kebingungan tanpa hati? Walau kadang tak melulu mengabulkan doa yang sudah
dipanjatkan tanpa henti, tapi picing matanya tak pernah pergi. Ia seperti
sahabat baik yang tumbuh bersama dan selalu di sisi.
KehadiranNya memang
tak selalu terasa. Atau memang kita saja yang kurang peka sebagai manusia.
Namun jika mau bersahabat dengan damai dan senyap sedikit saja — kita akan tahu
ia ada.
Ia kerap menjelma
dalam nasihat kedua orangtuamu. KeinginanNya kadang dititipkan pada cecaran
dosen pembimbing skripsi dalam lembar revisimu. PetunjukNya jadi backsound tak
terdegar di belakang obrolan ringan bersama kawan-kawanmu. Menunggu hatimu
cukup peka menjemputnya di situ.
Ia tak selalu
kelihatan di sisi. Namun ia tak pernah membiarkan kita berteriak ‘Mayday’
karena kehilangan navigasi.
Ia mendengar.
HatiNya bergetar. Namun Ia hanya ingin kita bersabar
...ia hanya ingin
kita bersabar
…ia hanya ingin kita
bersabar via katmervynphotography.com
Tak terbayang
rasanya jadi Dia. Tiap waktu mendengar permohonan, kemudian
mengkotak-kotakkannya dalam:
•Diwujudkan
•Ditangguhkan
•Diganti yang lebih
sepadan
HatiNya tentu tak
nyaman menolak keinginan. Bukankah cintaNya tak perlu lagi dipertanyakan?
Apakah enak menolak permintaan sederhana dari mereka yang kebaikannya selalu
diutamakan?
Setiap permohonan
tersampaikan, percayalah jika hatiNya bergetar. TelingaNya mendekat — tak ada
ucap yang tidak tersambar.
Jika bijak tentulah
ia sudah memencet tombol approve untuk semua permintaan. Namun dia lebih
mengerti, bahwa kita-kita ini butuh jeda agar menghargai hal yang diwujudkan.
Ia ingin kita bermesra, sering-sering mengunjungiNya meski dengan pretensi di
baliknya. Baginya tak apa tarik ulur sedikit, pakai umpan dan pancing agar
terasa seru sedikit. Yang jelas kesabaran ini akan berbuah manis, tanpa sakit.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar